Sakmah ( 43 tahun ) rela tidak bekerja selama 14 tahun setelah suaminya meninggal demi menjaga anak semata wayangnya yang difabel celebral palsi. Kebutuhan sehari hari hanya mengandalkan hasil membuka warung kecil kecilan sambil mengajar anak anak mengaji di rumahnya yang berukuran 5 kali 4 meter peninggalan almarhum suaminya.

Ada 60 santri/santriwati yang beliau tangani di rumah kecil tersebut. Dari sanalah kadang kadang ibu separuh baya ini mendapatkan rejeki dari orang tua anak anak yang beliau ajarin mengaji sambil menjaga anaknya Muhammad Khoiri yang saat ini berusia 15 tahun.

 

Beberapa hari yang lalu Tim Yayasan Endri Lombok Disability Center (YE-LDC)  di damping oleh Endri’s Foundation Lombok Timur sempat mengunjungi rumah beliau untuk membawakannya beberapa kebutuhan  pokok seperti beras, minyak goring dan lain lainnya. Pada saat yang sama LDC juga memberikan Muhammad Khoiri satu unit kursi roda adaptif supaya bias di ajak jalan jalan keluar rumah yang selama ini tak pernah dia rasakan.

Muhamad Khoiri sempat mendapatkan bantuan dari program Kementrian Sosial yaitu bantuan ASBDB. Namun setelah program tersebut di ambil alih oleh PKH, Muhamad Khoiri di coret dari program tersebut. Padalah keluarga ini sangat membutuhkan bantuan tersebut untuk menambah kebutuhan pokok anaknya yang Difabel sejak usia satu tahun tersebut.

 

Sementara desa Sikur Selatan Melalui kadusnya mengatakan tak bias berbuat banyak untuk membantu warganya karena desa ini baru terbentuk dan belum mendapatkan bantuan dana desa (ADD). Sedangkan untuk mencarikan bantuan lewat program yang lainnya kadus yang baru saja menjabat ini belum tau Linknya di pemerintahan.

 

Lombok Disability Center sangat berharap setelah kondisi Muhamad Khoiri di ketahui oleh pemerintah Lombok timur dalam hal ini  Dinas social bias memberikan altrenatif lain untuk membantu ekonomi keluarga ini demi terjaganya kondisi kesehatan Khoiri melalui pemenuhan nutrisi dan gizi yang memadai. (WS)