Kepala Dinas Sosial Provinsi Nusa Tenggara Barat H. Ahsanul Kholik Alhaq mengatakan bahwa Dinas yang dia pimpin mempunyai data 27 ribu lebih penyandang Difabel by name by Andres. Hal ini di katakan waktu menghadiri acara Temu Inovasi di Hotel Lombok Raya pada tanggal 19/12 lalu.

 

Dengan data yang di pegang oleh Dinas Sosial tersebut, maka pemerataan pelayanan terhadap penyandang Difabel tentu akan semakin bagus. Namun semakin kita telusuri daerah daerah terpencil dan jauh dari pantauan pemerintah, masih banyak sekali kita jumpai para penyandang difabel yang sama sekali belum  tersentuh oleh perhatian pemerintah. Rahman ( 22 tahun ) adalah salah satu contoh penyandang difabel yang sama sekali belum tersentuh.

 

Kalau kita lihat daerah tempat tinggalnya, Rahman tidaklah bermukim di daerah yang terpencil. Dia tinggal di perbatasan antara Lombok Timur dengan Lombok tengah. Rumahnya hanya berjarak 5 meter dari ruas jalan raya di dusun Sepakat Desa Ganti kecamatan Praya Timur. Walau tinggal di daerah yang mudah di jangkau dan di pantau, namun tak menjamin Rahman mendapat pelayanan dari Dinas Terkait.

 

Sebagai seorang Difabel yang tergolong ODKB ( Orang dengan kececatan berat ), kami rasa Rahman layak mendapatkan bantuan Stimulan yang 300.000/bulan tersebut. Karena selain menjadi penyandang Difabe, Rahman juga seorang yatim sejak usia 6 bulan. Sementara ibunya yang berasal dari Lombok timur meninggalkan dia sejak usia 1 tahun karena menikah lagi dengan laki laki lain. Hal ini memperkuat asumsi kita jika Rahman layak mendapatkan bantuan tersebut.

 

Sekarang Rahman tinggal dengan seorang saudara almarhum ayahnya di dususn sepakat. Walau hidup sederhana, pasangan keluarga Amaq Sturi dan Sumerah ini sangat menyayangi Rahman selayaknya anak kandung sendiri. Walau hanya menjadi buruh tani, bahkan terkadang sebagai penganyam ketak ( sejenis kerajinan khas Lombok ) mereka tak pernah mengeluh dengan Rahman yang membutuhkan perhatian yang lebih secara materi, Ini karena Rahman sama sekali tak bisa mandiri dalam melayani dirinya sendiri.

 

Di pelosok pelosok desa yang jauh dari perhatian pemerintah, masih banyak lagi Rahman-Rahman yang lain yang menanti sentuhan dari pihak terkait. Semoga dengan adanya data yang 27 Ribu lebih tadi, pemerintah dalam hal ini Dinas Sosial semakin bagus dalam melayani para Difabel yang selama ini belum tersentuh.

 

DIFABEL ITU TANGGUNG JAWAB KITA SEMUA

 

Berbicara masalah tanggung jawab, masalah Difabel ini bukan hanya tanggung jawab Dinas Sosial semata. Namun ini adalah tanggung jawab kita semua. Masayarakat juga harus berperan katif melakukan advokasi ke pemerintah desa jika menemukan penyandang Difabel yang belum tersentuh bantuan. Begitu juga dengan pihak desa harus proaktif melaporkan keberadaan warganya ke pemerintah supaya SKPD terkait bisa menindak lanjuti laporan tersebut.

 

Di sisi yang lain masyarakat juga harus lebih peka terhadap keberadaan kaum penyandang Difabel. mereka harus mendapatkan perlakuan yang sama dengan warga warga yang lainnya. Jangan ada lagi bulyan buliyan terhadap mereka. Terlebih lagi pelecehan. Sebagai warga Negara mereka punya hak yang sama dengan kita.