Dalam UU No 8 Tahun 2016 Palas 10 Hurup (a) menyatakan Difabel berhak mendapatkan pendidikan yang bermutu pada satuan pendidikan di semua jenis,jalur dan jenjang pendidikan secara inklusi dan Khusus. Ini berarti semua difabel berhak menerima pendidikan tanpa ada diskriminasi lagi di Negara kita ini.

 

Walau UU sudah mengatur semua kebutuhan difabel, namun diskriminasi masih sangat kental terjadi di tengah tengah masyarakat terutama di daerah daerah pelosok yang jauh dari pantauan pengambil kebijakan.

 

Masalah pendidikan adalah yang paling banyak kita jumpai kasus kasus diskriminasi. Setelah beberapa bulan yang lalu Divisi Difabel Endri’s Foundation menjumpai kasus diskriminasi di Lombok tengah, 1/12 kemarin tim Divisi mendapatkan laporan lagi dengan adanya kasus diskriminasi dalam pendidikan ini di daerah Lombok timur, tepatnya di desa Mendana Raya kecamatan keruak.

 

Afriana  ( 12 tahun ) sudah 1 tahun ini tak sekolah lagi. Dampingan Divisi Difabel sejak 2014 ini sempat bersekolah sampai kelas 3 di desanya. Gadis cilik yang hobi mengutak atik laptop ini memang tergolong anak yang pintar walau tangannya masih kaku. Hal ini yang membuat dia kesulitan untuk menulis mata pelajaran yang di sampaikan oleh gurunya. Hal ini pula yang membuat sekolahnya enggan untuk menerima Afiana sekolah secara penuh. Dia hanya di anggap sebagai pelengkap saja di sekolahnya.

 

Walau tak bisa menulis, Afriana bisa menerima pelajaran dengan cara menghapal apa yang di sampaikan oleh gurunya. Ini bisa di liat dari kepintaranya menjawab semua soalan yang di berikan gurunya. Hanaya saja butuh pendamping khusus supaya dia bisa menulis jawaban apa yang di berikan oleh gurunya.

 

Beberapa tahun yang lalu sempat Divisi difabel melakukan edukasi ke sekolah dimana Afriana mengenyam pendidikan karena guru kelasnya enggan menerima dia mengikuti mata pelajaran di kelas 3. Namun setelah di beri pemahaman akhirnya gurunya dengan berat hati menerima Afriana sekolah. namun sejak kepala sekolahnya berganti, diskriminasi itu datang lagi. Malah Afriana di asingkan di kelasnya.

 

Menerima perlakuakn seperti itu, mental Afriana menjadi Dwon dan malu utuk sekolah lagi. Namun di rumahnya dia masih tetap belajar karena orang tua Afriana tak mau menyerah untuk mendidik anaknya. Ini nilai plusnya keluarga ini. Pendidikan anak anaknya adalah hal yang paling di utamakan. Namun sayang tak mendapatkan dukungan darai para tenaga pendidik di desanya.

 

Sekarang Ariana dan keluarganya sangat mengharap pihak Dinas pendidikan member jalan keluar supaya dia bisa sekolah kembali layaknya anak anak yang lainya. Dia juga mersa aberhak untuk menentukan masa depanya melalui bangku pendidikan yang sudah menjadi haknya sesuai yang di amanatkan undang undang. (Ws )