CERPEN

Mutiara Itu Hilang Di Ujung Azan Magrib

Oleh : Lalu Wisnu Pradipta

 

Senja itu dengan bergegas aku menutup pintu rumah sederhana tipe 27 di kawasan permata hijau batu aji, Batam. Tujuanku hanya satu yaitu sampai ke bandara Hang Nadim secepat mungkin. Sejak menerima kabar itu entah kenapa hatiku terasa terbetot dari dadaku. Napasku sesak bagaikan terhimpit berton ton matrial yang keras. “ pokoknya mala mini juga saya harus sampai di kampong “ batinku di atas Taxsi tua berwarna kuning dengan mobil Corona.

 

 ********

 

Rumah tua berdidnding bedek dan beratap ilalang itu sangat mencolong di pinggir gang di sebrang sekolah SD itu. Kedaanya yang condong ke barat seolah olah lagi sujut kea rah kiblat dengan tiang di topang sebatang pohon turi yang sudah lapuk dan hampir patah. Di sanalah seorang pemuda tanggung duduk termenung di depan pintu tanpa baju. Tulang tulangnya Nampak keluar hanya terbalut kulit dan sedikit daging yang masih tersisa melekat di badanya. Sementara kaki kananya membengkak seberti daging yang membusuk penuh belatung. Itulah aku saat itu.

 

Selain di dalam tanah tempat rumah ini di bangun ada hasil keringat saya berupa seekor induk kambing hasil gembalaan waktu saya masih sehat kala itu, rumah tua ini banyak menyimpan kenangan yang tak mungkin aku lupakan sampai aku mati kelak. Karena di rumah inilah saya belajar bertanggung jawab dengan dengan adik adiku saat aku harus lari ke pasar dan membuang buku sekolahku di samping rumah demi potongan potongan ujung singkong hasil upah membongkar singkong dari atas teruk. Di sini tempat saya harus menhan lapar karena beras sama sekali tak ada. Dan di sini aku belajar arti sebuah menadirian dalam hidup yang sebenarnya.

 

Terlahir dari seorang orang tua yang mempunyai berhektar hektar sawah bukan berarti hidup harus mewah. Terlahir dari seorang ayah yang bertitel “ LALU” atau “Mamiq “ bukan berarti nasip kita akan baik. Yah….. betulah saya dan keluarga pada waktu itu.

 

Pernah di suatu sore salah seorang keluarga besar ayahku yang sangat terkenal kaya lewat di depan rumah reot itu. Saat itu saya seperti biasa duduk di depan pintu. Beliau yang sering kami panggil “Bape” hanya menoleh sebentar dan lolos dengan wajah dingin. Namun entah kenapa tiba tiba beliau berbalik dan melemparkan saya uang koin berbahan almunium yang tertera angka Rp.50,-. Yaahh….  lima puluh rupiah. Dalam usia penyakitku yang menginjak hampir 3 tahun, baru kali inilah beliau berdiri di depanku dengan jarak yang begitu dekat. Padahal rumahnya hanya berjarak kurang lebih 10 rumah dari gubuk reotku.

 

Sejak kecil sebelum mengenal arti sebuah “Trah Menak “ atau sejenisnya saya seperti merasa asing di saat berada di tengah tengah keluarga ayahku. Karena hanya keluarga kami yang hidupnya seperti ini. Pernah terdengar desas desus dari “Ninik” saya langsung kalau ini karena ulah ayahku yang selalu menyia nyiakan harta peninggalan keluarga berupa sawah, ada juga aku dengar karena ibuku yang dating dari “ Trah” yang berbeda. Biarlah……. Tak perlu aku pikirkan lagi. Yang jelas kami seperti terhalang sebuah tembok jika berada di tengah tengah keluarga besar ayahku.

 

Di tengah tengah kondisi seperti itu tak sedikitpun rasa sedih menerpa hatiku saat itu. Mungkin karena saya yang masih belum berpikir dan paham arti semuanya. Saya hanya asik dengan lembaran lembaran kertas berbentuk buku sebagai pelipur rasa sakit di saat kakiku kumat. Dan yang selalu ada di sampingku adalah ibuku yang selalu merawatku dengan penuh kasih saying. Yahhh….. ibuku yang selalu mendekap aku di saat badanku menggigit menahan rasa sakit di kakiku. Hanya beliau yang selalu meneteskan air mata di sampingku di setiap senja akan tiba. “ aku tak rela mati sebelum melihat kamu sembuh. Hanya itu doaku di setiap sujudku dalam sholat “ kata ibuku. Kata kata ini samapai sekarang di usiaku yang ke 43 tetap terngiang.

 

********

 

Lamunanku  berhenti karena tepukan sebuah tangan di bahuku. Ternyata saya sudah sampai sebuah pintu gerbang yang di dalamnya penuh dengan pohon pohon kamboja dan batu kapur yang terukir indah. Saya sempat termenung sebentar sebelum akhirnya dengan langkah sempoyongan merangkak ke dalam dan mencari pohon asam yang cukup besar. Azan subuh sebentar lagi akan berkumandang. Suasana masih gelap. Namun saya tak menemui kesulitan menemukan sebuah gundukan danah yang masih merah dan basah. Batu nisan yang terbuat dari bamboo bertuliskan “ Sahmin “ tertancap di sana.

 

Hampir satu jam saya hanya bisa terdiam tanpa suara. Napasku seperti berhenti bergerak. Hanya air mataku yang mengalir deras tanpa bisa aku tahan lagi. Bayangan banyangan it uterus menghantui dalam relung hatiku yang paling dalam. Bayangan bayangan penderitaan yang tak bisa aku bayangkan dengan nalarku.

 

Setelah saya bisa menguasai diri, saya lalu menoba meraih batu nisan yang masih hijau itu. Di sana saya seperti mau mati dan tak berniat untuk melanjukan hidupku. Di dalam gundukan tanah inilah jasad ibuku terbaring. “ Mutiara itu hilang di ujung azan magrib” bisiku dalam hati.

 

15 Juni 2018 bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri 1439 Hijriah.