Sebulan yang lalu, Vira Andrianingsih genap berusia 15 tahun, berarti musibah kelam itu sudah 14 tahun dia alami, musibah yang tak pernah di lupakan oleh semua keluarga vira terutama oleh dia sendiri. Karena musibah itu yang membuat masa depan Vira hampir gelap tanpa harapan lagi.

Waktu itu, 14 tahun yang lalu di saat Vira baru berusia 1 tahun, keluarga vira yang selama ini tinggal di desa pototano Sumbawa Barat berencana mau pulang kampung ke Kabupaten Bima. Dengan naik sepeda motor, mereka bertiga berboncengan melaju kearah Bima tanpa pernah berpikir bahwa maut sedang mengintai mereka. Tiba tiba sebuah bis yang selama ini melaju kencang di belakangnya menyalip mereka yang membuat motor yang di tumpangi oleh Vira dan kedua orang tuanya ambruk di tengah jalan. Nasib naas tak bisa di hindari oleh Vira, dia terkena lindasan ban Bis dan membuat kedua kakinya hilang. Dalam usia yang sangat masih belia dia sudah menerima beban yang cukup berat.

 

Pada tahun 2013 vira yang saat itu baru kelas 3 SD di Desa poto tano tak sengaja di jumpai oleh seorang bule asal Newzeland bernama Peter David Honey yang kala itu sedang liburan ke pulau Sumbawa. Saat itu vira berjalan dengan kedua lutunya karena kedua betisnya sudah tak ada sama sekali. Setelah bertemu dengan kedua orang tua Vira dan Kepala Desa Pototano dan menanyakan langsung ke Vira apakah dia mau di oprasi perbaikan tulang lutut supaya bisa di buatkan kaki palsu.

Peter David Honey yang mempunyai banyak koneksi dengan beberapa lembaga atau yayasan yang menangani para Difabel di Indonesia ini lalu menyambungkan keluarga Vira dengan yayasan peduli kemanusiaan yang berdomisili di Bali untuk menindak lanjuti oprasi Vera ke Australia.

 

Kini sudah 5 tahun sudah berlalu. Vira yang dulu hanya berjalan dengan kedua lututnya sekarang sudah bisa berjalan normal kembali dengan kedua kaki palsunya. Langkahnya sudah mantaf dan tak Nampak kalau dia memakai kaki palsu. Ada kebanggan tersendiri buat Vera karena dengan kekurangannya ini di tak pernah merasa minder dan terus bersemangat untuk melanjukan pendidikanya supaya cita citanya sebagai Dokter kelak tercapai. Sekarang Vera duduk di bangku kelas 9 SMP kecamatan Seteluk Kabupaten Sumbawa Barat.

 

Dengan semangat yang tak pernah lelah Vira terus berusaha membuktikan bahwa dia mampu untuk hidup layaknya orang yang normal. Bahkan untuk membukitan itu, dia terkadang dari sekolah jalan kaki ke rumahnya jika tak di jemput oleh bapaknya. Walau jarak dari sekolahnya cukup jauh, namun dia sama sekali tak pernah mengeluh. Kegiatan olah raga seperti bermain bulu tangkis dan lain lain juga mampu di lakukan bersama teman temannya yang lain yang lebih normal. Hal itu dia perlihatkan ketika Team Yayasan Endri’s Foundation Divisi Difabel mengunjunginya di tempat kediamannya. (ws)