Kebutuhan difabel akan alat batu akses seperti kursi roda, kaki palsu dan tongkat di lombok cukup tinggi. Rata rata di setiap kabupaten kota membutuhkan dua ratusan kursi roda akses dan ratusan kursi roda trasnfer/stadar. Melihat kebutuhan yang begitu tinggi, puspadi bali sejak tahun 2012 sudah memulai bekerja sama dengan LP3AD NTB untuk melayani mereka yang membutuhkan alat bantu akses tersebut.

 

Sudah sekian ratus orang yang bisa di layani di pulau lombok dan sumbawa. Kamis, 29-30 maret mereka kembali melayani para difabel di 3 kabupaten di pulau lombok untuk melakukan evaluasi bagi penerima menfaat yang sudah mendapatkan bantuan dan Assesment pengukuran untuk penerima menfaat yang baru. Dalam 2 hari mereka melayani 80 puluh penerima kursi roda dan beberapa orang penerima kaki palsu dan tangan palsu.

 

Kegiatan Puspadi Bali Goes To Lombok kali ini terselenggara atas kerja sama Divisi Difabel Yayasan Endris Faoundation yang mencoba Fokus untuk menangani kebutuhan para difabel lombok dan sumbawa terutama masalah alat bantu akses yang memenuhi standar sesuai kebutuhan. Hal ini di lakukan kerena yayasan endris foundation melihat kebutuhan difabel akan alat bantu akses masih sangat besar di NTB ini.

 

Lalu Wisnu Pradipta sebagai pendiri LP3AD yang saat ini menjadi Koordinator Divisi difabel dan tenaga Frovider Assesment kursi roda Puspadi bali berkomitmen akan terus menjalin komunikasi dengan Puspadi Bali untuk melayani kebutuhan para difabel pulau lombok dan sumbawa. Misi yang di emban oleh Divisi Difabel ini adalah bagaimana supaya bisa benar benar melayani difabel dengan baik dan terarah supaya sama sama meraih kemandirian. Dengan alat bantu akses yang sesuai akan memudahkan difabel untuk melakukan aktifitas mereka dalam bekerja dan meraih kemandiriannya.

 

Sementara itu I Nengah Latra sebagai pendiri yayasan Puspadi bali 23 tahun yang lalu, sangat berharap ada puspadi puspadi lain yang akan tumbuh di pulau lombok ini dengan nama yang lain supaya bisa melayani kebutuhan difabel dengan lebih maksimal lagi. Karena bagaimanapun juga, jarak antara bali dan lombok yang cukup jauh akan menyulitkan untuk mengontrol kebutuhan difabel. Perlu sebuah komitmen untuk fokus di bidang alat bantu akses ini.

Sementara itu Endri susanto sebagai pendiri yayasan Endri,s Foundation sangat berharap kedepanya pemerintah ikut andil dalam kegiatan kegiatan sperti ini. Karena bagaimanapun juga ini adalah tanggung jawab dari Dinas terkait terutama Dinas Sosial.

“ Kita mengakui bahwa selama ini dinas sosial sudah melakukan atau memberikan pelayanan kursi roda pada masyarakat. Tetapi itu belum seberapa dengan jumlah masyarakat NTB yang begitu banyak membutuhkan alat bantu kursi roda dan kaki palsu. Bahkan untuk tongkat saja ada ribuan masyarakat yang membutuhkan perhatian. “ terangnya.

 

“ Masalah standar kursi roda yang layak juga harus di perhatikan oleh dinas sosial, karena selama ini yang di salurkan adalah kursi roda trnsfer stadar rumah sakit. Itu kursi roda sangat sangat tidak layak buat para difabel yang aktif di luar rumah. Dan kalau di paksakan itu juga sangat berbahaya sekali “ lanjut endri susasnto dan di iyakan oleh Lalu Wisnu Pradipta sebagai Provider pelayanan kursi roda Puspadi bali.

 

Sedangkan Lalu Wisnu Pradipta hanya berkata singkat “ saya sudah capek melobi dinsos supaya mau memberikan pelayanan dalam bentuk kursi roda yang layak. Bahkan saya sudah pernah mendatangkan pimpinan Puspadi Bali dan pikak UCP sebagai penyedia layanan kursi roda yang berstandar WHO tapi mereka sepertinya enggan untuk menindak lanjuti “ katanya. (ws)