Lalu Nuraiman atau biasa di panggil Nuraiman adalah seorang Dipafel daksa karena terkena polio sejak lahir. Laki laki campuran Palembang dan lombok ini terlahir prematur di saat usia kandungan ibunya baru berusia 7 bulan. Anak bungsu dari tiga bersaudara pasangan Mamiq Yogi Pratama dengan Nurjanah ini terlahir di malaysia saat kedua orang tuanya sama sama menjadi TKI.

 

Walau terlahir di malaysia, Nuraiman bersama kedua kakaknya, yogi dan Nurdiana tak ingat rupa dan keadaan Malaysia karena mereka di antar ke lombok oleh kedua orang tuanya sejak usia dua tahun. Ini karena orang tuanya mau fokus kerja di rantau. Dan sekarang Nuraiman sudah berusia 17 tahun. Mereka semua di asuh oleh bibiknya sejak kecil sampai sekarang.

 

Nuraiman hanya sekolah sampai kelas 3 SMP dan tak melanjutkan sekolahnya sampai tamat dengan alasan tak ada lagi yang mengatarnya ke sekolah yang jaraknya cukup jauh. Sementara kursi roda yang di beri oleh Puspadi Bali beberapa tahun yang lalu sudah rusak. Di sisi lain bibik yang menjaganya di sibukan oleh pekerjaanya sebagai buruh tani. Begitu juga dengan kedua kakak kakanya tak ada yang tamat sampai SMP, semuanya putus sekolah di bangku SMP.

 

Sekarang kegiatan Nuraiman hanya nganggur di rumah. Terkadang dia ikut sebuah kesenian musik di kampungnya sebagai pemain kendang. Kegilaanya terhadap musik ini memaksa Nuraiman harus tetap mengikuti latihan latihan yang di adakan oleh sebuah sanggar musik tradisional yaitu kesenian Kecimol. Saking sukanya terhadap seni musik, Nuraiman hapal nama nama penyanyi tradisional lombok, bahkan Nuraiman banyak mengoleksi kaset kaset mereka.

 

Harapan Nuraiman kedepanya ingin sekali seperti teman temanya yang lain hidup mandiri melalui musik seperti Jhon Kursi roda yang sudah terlebih dahulu menjadi artis lagu lagu daerah lombok. Untuk Jhon kursi roda Nuraiman memiliki beberapa VCD sebagai koleksi pribadinya. Lagu lagu Jhon hampir semuanya Nuraiman hapal.

 

Walau dengan kekurangan fisik yang Nuraiman miliki, dia sama sekali tak putus semangat untuk belajar musik. Bahkan kalau ada kursi roda, dia ingin sekali ikut mencoba olah raga basket kursi roda seperti teman temanya yang tergabung dengan Lombok Adil Sport (LAS) yang bermarkas di BRI Lombok Tengah. Hal ini dia sampaikan ke Divisi Difabel Endris Foundation bagian pemberdayaan Difabel, Niar Kartika waktu di kunjungi untuk evaluasi kursi rodanya yang rusak. Selain ingin menycoba kegiatan olah raga, Nuraiman juga berjanji akan melanjutkan pendidikanya di bangku sekolah supaya bisa seperti teman temannya yang lain.

“ saya nggak melanjutkan pendidikan saya di SMP karena bibik sibuk di sawah, sementara sekolah saya jauh. Tapi sekarang kakak bisa bawa motor, mungkin dia mau mengantar saya ke sekolah nanti pak “ kata Nuraiman.

 

“ Kalau kursi roda saya nanti sudah bagus, mungkin juga saya bisa jalan sendiri ke sekolah. saya akan coba apakah saya bisa mengayuh kursi roda saya sampai kesekolah. Itung itung olah raga kak” sambung nuraiman berjanji. Niar Kartika sebagai Pemberdayaan Difabel di Divisi Endris Foundation terus memberi Nuraiman semangat supaya mau melanjutka pendidikannya yang sempat terhenti. (ws)