Menjadi seorang Difabel (penyandang cacat) sangat sulit, terlebih menjadi penyandang Difabel Berat atau biasa di sebut dengan orang dengan kecacatan berat(ODKB). Segala kebutuhan hidupnya semuanya tergantung dari bantuan orang lain. Mulai dari makan,mandi bahkan berpindah tempat harus di bantu orang lain, begitu juga dengan hal hal yang lainya.

 

Begitulah yang di alami oleh Emi Juniarti (21) asal Gunung Tampik Desa Montong Baan Lombok Timur ini. Sejak usia 9 bulan dia sudah di asuh oleh kakek dan neneknya karena kedua orang tuanya berpisah/cerai. Sementara ayah Emi Juniarti yang pada saat itu berada di rantau sama sekali tak memperdulikan kondisi Emi yang terlahir dalam keadaan tidak normal.

Sebagai seorang buruh tani yang berpenghasilan tak menentu, Amaq Marwan dan Inaq Marwan merasa sangat kesulitan untuk mengasuh cucunya. Terlebih lagi cucunya dalam keadaan tidak normal ( Difabel ). Namun karena rasa sayangnya yang membuat Amaq Marwan tetap mengasuh cucunya dengan penuh rasa kasih sayang. Segala keperluan cucunya mulai dari makan dan obat obatan dia usahakan walau terkadang harus mengangkat utang sama tetangga. Sementara ibu Emi Juniarti setelah bercerai dengan suaminya, dia langsung merantau ke malaysia untuk membantu orang tuanya yang mengasuh anaknya.

 

Sekarang usia Emi Juniarti sudah 21 tahun. Tubuhnya yang kaku hanya bisa berbaring di atas tempat tidurnya tanpa bisa berbuat apa apa. Begitu juga dengan Amaq Marwan dan Inaq Marwan sekarang sudah semakin tua dan uzur. Bahkan Inaq Marwan, neneknya Emi Juniarti saat ini terkena Struk yang membuat tangan kirinya tak bisa di gerakan sama sekali. Hal ini membuat beban hidup yang di tanggung oleh kedua pasangan kakek dan nenek ini semakin berat. Sementara ibu Emi Juniarti sudah menikah dengan laki laki lain tanpa membawa serta anaknya, Emi Juniarti.

 

Ketika Team Endri’s Foundation Divisi Difabel menyambanginya beberapa hari yang lalu, Emi Juniarti hanya bisa tersenyum sebagai bentuk rasa senangnya di kunjungi. Wajahnya yang polos hanya bisa tersenyum tanpa bisa bersuara sama sekali. Sedangkan neneknya hanya menatap sendu sambil membopong tangan kirinya yang lemas tanpa bisa di gerakan lagi.

Dalam ruangan berukuran 2 kali 3 meter berdinding pagar bedek bambu yang nempel di samping rumah anaknya, di situlah Amaq Marwan dan istrinya  mencoba bertahan hidup bersama cucunya Emi Juniarti dengan pasilitas apa adanya. Tak ada perabot rumah di situ, yang ada hanyalah sebuah dipan tempat tidur mereka di saat lelah mengurus cucunya yang tak bisa di tinggal kemana mana.

 

“ Inilah keadaan kami pak. Cucuku adalah semangat hidupku. Kalau tak ada kami saya nggak tau bagaimana dengan nasib dia” kata Amaq Marwan sendu.

 

“ kami orang tak berada pak. Sekarang yang saya pikirkan adalah bagaimana nasip cucu saya jika kami sudah tak ada di dunia ini. Sementara ayahnya sama sekali tak pernah mau perduli dengan anaknya. Walau jarak kampung kami dengan dia hanya 500 meter, tapi selama ini tak pernah satu kalipun dia menjenguk anaknya. Bahkan saat anaknya sakitpun mereka tak pernah perduli “ terang Amaq Marwan lebih anjut.

 

“ Kami hanya mau melihat anak ini ( Emi Juniarti ) ada yang mengurusnya kelak pak. Tapi sepertinya itu akan sangat sulit walau itu orang tuanya sendiri. Karena sudah 21 tahun hanya kami yang mengurus anak ini “ tambah nenek Emi Juniarti, Inaq Marwan.

 

Sekarang Emi Juniarti sangat membutuhkan kursi roda yang Khusus karena kondisi semua Fisiknya yang kaku. Divisi Difabel Yayasan Endri’s Foundation yang sudah melayani Difabel dalam hal mendapatkan bantuan kursi sejak tahun 2012 merasa kesulitan menentukan kursi roda yang layak untuk Emi Juniarti. Tapi mereka akan mencoba konsultasikan ini kepada Puspadi Bali supaya Emi Juniarti bisa mendapatkan kursi roda yang layak sesuai kebutuhanya. (ws)