Difabel atau biasa di sebut penyandang cacat adalah kondisi di mana tubuh seseorang yang mengalami kelainan atau kekurangan seperti kaki yang mengecil atau tanpa lengan yang di akibatkan oleh beberapa hal yaitu Sakit,kecelakaan atau bawaan sejak lahir. Menjadi seorang difabel bagi sebagian orang adalah sesuatu yang memalukan bahkan hina. Terlebih bagi golongan tertentu bisa jadi menganggap dirinya adalah karma atau bala dari  yang pernah di perbuat di masa lalu.

 

Di sebagaian daerah, mempunyai keluarga penyandang Difabel adalah sesuatu yang harus di sembunyikan dari masyarakat yang lain sehingga tak jarang kita jumpai para Difabel yang hidupnya terkurung atau terkekang tak bisa kemana-mana. Jangankan untuk mendapatkan pendidikan, untuk bergaul atau sekedar keluar dari lingkungan rumahpun mereka di kekang. Diskriminasi dalam keluarga  tak pernah lepas dari kehidupan mereka.

 

Semua orang berpeluang menjadi seorang Difabel. Karena kehendak tuhan tak bisa kita bantah. Boleh jadi seseorang yang selama ini kita kenal adalah seseorang yang pisiknya normal dan sehat, tetapi tiba tiba menjadi seorang Difabel karena kecelakaan atau sakit. Difabel bukanlah sesuatau yang perlu di malukan maupun sesuatu yang di sembunyikan. Difabel adalah sebuah rahmat dari tuhan supaya kita bisa berpikir bahwa kita hanya bisa bersukur dengan apapun kehendak tuhan atas diri kita.

 

Seperti Sahril, laki laki kelahiran 1969 ini sudah 26 tahun menjadi seorang Difabel karena kecelakaan. Dia yang waktu itu lagi berdiri di pinggir jalan tiba-tiba di seruduk oleh mobil dari belakang yang mengakibatkan tulang belakangnya patah. Mantan ABK ( anak Buah Kapal ) Duta Karya yang berlayar dari kayangan ke sumbawa ini sama sekali tak akan menyangka akan menjadi seorang Difabel.

 

Awal awal kena musibah sempat membuat pikiran jadi stres dan kacau. Ekonomi keluargapun menjadi berantakan. Bahkan anak pertamanya putus sekolah di bangku kelas 3 SMP karena tak punya biaya untuk meneruskan pendidikanya. Penderitaan yang Sahril alami pada waktu itu cukup berat dan sulit. Dia hanya bisa pasrah dan tawakal atas musibah yang di alaminya.

 

Berkat dorongan keluarga dan istrinya Sahril bisa bangkit dari keterpurukan. Sedikit demi sedikit dia mulai mampu menerima keadaanya sendiri. Terlebih ada kedua orang putrinya harus mendapatkan sosok yang tegar sebagai panutannya. Hal itu yang membuat semangat Sahril untuk menjalani hidupnya bangkit kembali. Terlebih Zurriati, istrinya selalu menyemangati dan menerima keadaan Sahril walau sudah tak mampu lagi menjadi suami yang normal kembali.

 

Kini Sahril meniti hidupnya dengan tenang bersama kedua putrinya sebagai seorang penganyam pegar bedek (bambu) sebagai mata pencaharian. Kadang dia juga menerima Sol Sepatu atau sendal. Walau penghasilan dari kedua pekerjaan itu tak menentu, dia tetap menjalaninya dengan penuh semangat. Sementara Zurriati, sebagai seorang istri tak berpangku tangan. Dia membantu suaminya mencari napkah sebagai buruh tani, atau pekerjaan apa saja yang bisa mengasilkan uang.

 

Beberapa tahun yang lalu Zurriati memang terbiasa menjadi tukang tenun kain Songket Khas Lombok. Waktu itu dia masih bisa membantu ekonomi keluarganya dengan lancar karena harga kain songket cukup mahal.  Namun karena pengeliatannya semakin pudar, dia sudah tak bisa lagi menjadi penenun kain. “ mungkin paktor terlalu sering begadang waktu muda, mata jadi agak rabun pak “ kata Zurriati menjelaskan.

 

Perjalanan waktu membuat Sahril menjadi kuat dan bersemangat. Terlebih setelah di berikan bantuan kursi roda yang layak oleh Yayasan Puspadi Bali melalui Yayasan Endri Foundation. Kini Sahril sedikit leluasa kemana mana tanpa ada halangan lagi. (WS)