Pendidikan adalah kebutuhan pokok buat masyarakat umum baik itu penyandang Difabel maupun yang non Difabel. Tidak semua masyarakat bisa mengakses pendidikan terutama kaum Difabel. Banyak hal yang membuat masalah pendidikan ini belum merata sampai ke masyarakat. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya sarana alat bantu aksesbilitas buat para penyandang Difabel itu sendiri.

 

Salah satu penyandang Difabel yang tak bisa mengakses pendidikan itu adalah Dwi Susulawati. Gadis kecil kelahiran 2003 dari pasangan Jusnita dan suhaeni ini sudah 4 tahun tak melanjutkan sekolahnya. Alasannya adalah karena dia tak punya kursi roda untuk pergi kesekolah.

 

Dwi Susilawati menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasarnya tahun 2014 dengan nilai yang cukup bagus. Keinginannya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi sangat besar. Tapi kursi roda yang pernah di berikan oleh sebuah yayasan dari bali tahun 2012 sudah rusak. Sementara untuk membeli yang baru, keluarganya sama sekali tak mampu. Dwi susilawati sangat berharap bisa mempunya kursi roda yang baru supaya bisa melanjutkan pendidikanya ke bangku SMP.

 

Beberapa tahun yang lalu Dwi Susilawati pernah mendapatkan bantuan dari Yayasan Puspadi Bali untuk mendapatkan bantuan kursi roda adaptif yang layak untuk sekolah. Tapi karena kurang perawatan dan tak tau tempat membeli suku cadang terutama ban buntu, kursi roda itu akhirnya di biarkan teronggok tanfa pernah bisa di perbaiki. Sementara untuk membeli yang baru sangat sulit, penghasilan keluarganya tak sampai untuk membeli sebuah kursi roda yang harganya di atas 7 juta. Untuk kehidupan sehari hari saja keluarganya sangat kesulitan.

 

Untuk memenuhi impian anaknya supaya memiliki kursi roda yang layak, Jasnita, ayah Dwi susilawati  sudah 3 bulan merantau ke malaysia. Pekerjaanya sebagai buruh tani tak mampu untuk menopang kebutuhan keluarga, apa lagi untuk membeli kursi roda yang begitu mahal. Walau mereka hanya bertiga karena Dwi Susilawati adalah anak tunggal, namun keluarga ini juga menanggung beberapa keluarganya seperti mertua dan iparnya yang masih menumpang dalam keluarga kecilnya.

 

Jusnita yang masih menumpang di rumah mertuanya memang dari keluarga yang tak mampu. Sehari hari pekerjaanya sebagai buruh tani tak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluargnya. Walau istrinya membantu mencari rumput buat tetangganya, tapi masih juga belum bisa memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga kecilnya. Sementara Dwi Susilawati, anak semata wayangnya membutuhkan perhatian lebih.

 

Sebagai seorang ibu, Suhaeni tak mau melihat anaknya bernasip sama dengan orang lain yang tumbuh dewasa tanfa pernah mengenyam pendidikan. dia sudah bertekat untuk memberikan anaknya pendidkan yang layak untuk masa depannya. Tapi untuk mengakses sekolah itu bagi Dwi susilawati sangat sulit. Walau jarak sekolah SMP sekitar 500 meter dari rumahnya, jarak itu bagi Dwi Susilawati cukup jauh dengan kondisi kedua kaki yang sama sekali tak bisa bergerak. Sementara alat bantu akses berupa kursi roda yang selama ini sebagai penganti kakinya sudah rusak tanfa bisa di pergunakan lagi.

 

Harapan Dwi Susilawati, semoga ada yang mau membantunya untuk mendapatkan kursi roda yang layak  supaya bisa melanjutkan sekolahnya. Hanya kursi roda itu harapanya. Sementara bantuan dari pemerintah sama sekali belum berpihak pada dirinya.

 

“ saya akan sekolah jika ada kursi rodaku lagi. Ibuku tak mampu mengendong saya ke sekolah. Kalaupun bisa ibuku harus mencari napkah sehingga tak mungkin meninggalkanku di sekolah begitu saja “ kata Dwi Susilawati. “ seandainya keluarga saya mampu membeli, mungkin saya meminta di belikan karena saya mau seperti teman teman yang lain yang bisa sekolah “ lanjutnya. (ws)