Dua orang mantan TKI korban kecelakaan kerja di serawak di pertemukan oleh yayasan endris foundation. Mashuri  (20) adalah mantan TKI ilegal asal Suradadi kecamatan terara lombok timur dan Muksin (38) mantan TKI asal Steling kecamatan batu kliang utara lombok tengah adalah korban kecelakaan kerja di rantau orang yaitu malaysia timur bagian serawak.

Mashuri dan Muksin sama sama kerja di perkebunan kelapa sawit yang areal perkebunannya di litasi oleh aliran listrik tegangan tinggi. Di saat mereka kerja, gagang galah sabit untuk memotong buah yang terbuat dari bahan pipa besi terjatuh mengenai kawat listrik yang melitas di areal perkebunan tempat mereka bekerja. Nasip yang kurang beruntung yang membuat mereka harus pulang tanpa tangan dan kaki karena di amputasi akibat sengatan listrik bertegangan tinggi.

 

Mereka berdua sudah dua tahun harus hidup dengan kondisi mental yang tertekan karena perubahan kondisi pisik yang bagi mereka adalah suatu hal yang sangat memalukan dan membuat mereka minder di tengah tengah masyarakat. Menjadi orang yang kurang noral secara pisik ( Difabel ) membuat mental mereka sempat drop dan merasa putus asa. Namun karena kehadiran orang orang yang selalu memberi mereka harapan dengan shuport membuat mereka bangkit kembali.

Sejak beberapa minggu yang lalu mashuri sudah mulai berbaur dengan saudara senasip mereka yaitu para difabel pemain basket kursi roda yang berpusat di lombok tengah. Mashuri juga sempat di ajak latihan oleh team Ragby dari Yayasan Bali Sport Foundation di gelanggang olah raga turide. Dari sanalah kepercayaan mashuri mulai tumbuh. Terlebih setelah di bawa oleh team Divisi Difabel Yayasan Endris Foundation selama seminggu keliling mataram dan sekitarnya. Mendapat perhatian dan dukungan dari orang orang yang dia kenal membuat semangat hidupnya bangkit kembali.

 

Sementara Muksin yang kondisi kaki kirinya masih bermasalah dan harus di amputasi tak lepas dari perhatian team Divisi Difabel Yayasan Endris Foundation. Mereka terus memberikan masukan masukan dan semangat buat muksin supaya tetap tegar dalam menjalani sisa sisa hidupnya. Syamsul hadi, sekertaris Divisi Difabel endris Foundation berinisiatif memasukan muksin di sebuuah group Masenjer Facebook yang khusus di buat untuk para difabel. Di sanalah muksin dan mashuri mulai saling kenal dan melakukan komunikasi. Dua orang yang bernasip hampir sama ini menjadi akrab dan sering bersanda gurau. Mereka lalu berjanji untuk saling mengunjungi.

 

Mendengar mashuri dan muksin yang ingin sekali bertemu, Niar Kartika sebagai team pemberdayaan Difabel mengatur rencana untuk mempertemukan mereka. Senin 5 maret 2018 Niar dan Syamsul hadi akhirnya mebawa mashuri ke tempat kediaman Muksin setelah Mashuri sebelumnya menginap selama seminggu di kantor Yayasan Endris Foundation. Tak perduli dengan kondisi jalan yang cukup sulit di tempuh untuk mencapai kediaman Muksin di Steling kecamatan Batu Kliang Utara, Team Pemberdayaan Difabel EF tak pantang menyerah karena motor grandong siap menerabas hutan kaki gunung rinjani demi mempertemukan dua orang sahabat yang di pertemukan oleh satu nasip yaitu sama sama tak berkaki dan bertangan.

Kebahagian itu terpancar jelas dari kedua pasang mata oarang orang yang sangat luar biasa ini. Mereka bercanda dan bergurau tentang banyak hal mengenai kehidupan mereka yang di dera oleh sebuah musibah. Sejenak mereka melupakan segala cerita pahit di masa lalu. Tak ada satu kata penyesalan yang keluar dari bibir mereka. Yang ada adalah harapa harapan baru yang mereka susun untuk menyongsong pergulatan hidup di dunia ini.

 

Pada akhir pertemuan mereka berjanji untuk tetap saling mengunjungi supaya tali silaturohmi tetap terjalin. Rasa persaudaraan senasip dan spenanggungan menjadi ikatan batin mereka dalam menjalin sebuah persahabatan. Hanya waktu yang akan merubah semuanya. Hanya waktu yang akan membawa kebahagiaan buat mereka. Semoga persaudaraan ini tetap terjalin. (ws)