Selama ini Difabel ( penyandang cacat ) terbelenggu dengan sidgma kurang mampu bahkan tidak mampu sehingga kebutuhan kebutuhan Difabel sering sekali salah pengadaan oleh pemerintah. Selama ini para Difabel terutama ODKB sering hanya mendapatkan bantuan beruma bahan pokok berupa beras dan uang tuni. Sementara pendidikan pendidikan seperti Shop skil sangat jarang sekali. Bahkan untuk pendidikan Shop Skil itu sendiri masih bisa di hitung dengan jari.

 

Kalau kita mau melihat dan mendata para difabel yang sukses di bidang kewirausahaan, jarang sekali kita mendapatkan orang orang tersebut berhasil karena latar belakang pendidikan yang di berikan oleh pemerintah. Bahkan yang banyak kita jumpai adalah mereka mereka yang berhasil karena berawal dari belajar secara otodidak.

 

Kita bisa lihat keberhasilan sepasang suami istri yang semuanya Difabel yaitu pak Catur Bambang sang Maestro Modifikasi sepeda motor roda tiga asal bekasi. Berawal dari kebutuhannya sendiri akan sepeda motor roda tiga, jiwa usahanya yang jeli melihat peluang membuat beliau membikin bengkel khusus untuk roda tiga buat kebutuhan para Difabel. Para pelanggannya pun sudah tersebar di seluruh daerah yang ada di Indonesia ini.

 

Di lombok sendiri bisa kita lihat keberhasilan seorang ahli desain grafis Mantre Ardane. Walaupun dengan kaki polio yang membuatnya harus tetap duduk di kursi roda bukan berarti beliau akan terhalang untuk berkarya. Terlahir dari seorang seniman yaitu pelukis terkenal asal Lombok, beliau sukses berkarir di bidang desain grafis. Siapa yang tak kenal dengan toko oleh oleh baju kaos bermerek Sasaku. Di sanalah beliau berkarya sebagai desain grafis tunggal.

 

Bahkan di pelosok desa juga ada seorang Difabel yang sukses mendirikan sebuah Salon kecantikan. Zinur Aini yang berasal Dari desa Loyok Lombok Timur, sebuah desa yang tempatnya terpelosok mampu mendirikan salon kecantikan. Pelangganya bahkan datang dari luar loyok sendiri. Beliau juga tak jarang menerima orderan sebagai perias penganten untuk desa desa yang lumayan jauh dari tempat salonya berdiri. Semuanya berawal dari keinginan yang kuat untuk mandiri.

Peperintah seharusnya lebih memikirkan tentang pendidikan Shop Skil ini dari pada memikirkan kebutuhan pokok para difabel. Pemerintah harus sering sering duduk dengan para tokoh difabel untuk mendengar langsung akan kebutuhan mereka, bukan hanya mendata dan meraba raba bahkan berasumsi sendiri tentang kebutuhan para Difabel. (WS)