Kodrat seorang perempuan adalah menjadi seorang ibu tanpa harus melihat apakah pisiknya normal atau tidak. Terkadang memang seorang Difabel akan merasa kurang percaya diri untuk berumah tangga, bahkan untuk untuk berpikir mempunyai pasangan hidup yang menerima kita juga tak terbersit. Makanya masih banyak para Difabel yang hidup menjomblo walaupun keadaan ekonominya memungkinkan untuk berumah tangga.

 

Lain halnya dengan Erna Safa’ah yang merasa percaya diri berumah tangga walaupun dia sendiri adalah seorang perempuan yang sehari harinya duduk di kursi roda karena dia seorang Difabel Daksa ( Polio sejak kecil ). Perempuan kelahiran tahun 1983 ini beberapa lalu di persunting oleh Suparman yang justru keondisi pisiknya normal. Namun tanpa ragu dan minder mereka tetap menjalani hidupnya dalam berumah tangga dengan percaya diri bahkan menjadi contoh keihlasan sepasang manusia yang bisa menerima satu sama lainnya.

 

Sekarang mereka sudah di karuniai seorang putra yang berusia 7 tahun yang mereka beri nama Ibrahim Saleh. Dengan hadirnya buah hati mereka dalam keluarga kecil itu menjadi penyemangat hidup mereka untuk menjalani kehidupan berumah tangga. Bahkan ini sebagai bukti bahwa Seorang perempuan Difabel bukan penghalang untuk menjadi seorang ibu. Rumah sederhana yang mereka tempati selalu ceria dengan celotehan bujangan cilik mereka.

 

Walaupun Difabel yang sehari hari hidup di atas kursi roda, keluarga Erna Safa’ah sama sekali belum pernah menerima bantuan dari pemerintah yang berkaitan dengan bantuan yang Khusus di peruntukan buat para Difabel seperti di daerah lain. Bahkan untuk Bantuan kursi rodapun di kasi oleh sebuah yayasan luar negri yang perduli dengan kehidupan ibu muda ini.

 

Sekarang kegiatan sehari hari Erna Safa’ah bekerja jualan pulsa di Karang Kuripan Kediri Lombok Barat. Etalase kecil dengan ukuran 1 kali ½ meter tepajang di halaman depan sebuah apotik sebrang jalan warung ayam goreng gepuk. Di situlah Erna Safa’ah mecari napkah untuk menambah penghasilan Suaminya yang sebagai tukang bangunan yang kadang dapat job terkadang tidak. Birapun begitu mereka tetap bahagia menjalani kehidupan berumah tangga.

 

Erna berharap kedepanya para difabel mendapat perhatian Khusus terutama buat para Difabel yang sudah berumah tangga. Dengan adanya keluarga kecil mereka, kehidupan Difabel itu sangat sulit untuk mandiri karena paktor keterbatasan mera dalam mencari nafkah.

 

“ Banyak Difabel di lombok ini yang sudah bekeluarga pak. Tapi banyak dari mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan. Bahkan mereka terkadang mengemis untuk menghidupi keluarga. Lalu apakah ini salah mereka yang menikah tanpa harus memikirkan keadaan pisik mereka ? “ terang Erna.

 

Seorang Difabel yang menikah itu bukan salah mereka yang tak memikirkan kondisi mereka. Karena bagaimanapun juga mereka adalah insan yang di beri sebuah akan dan pikiran serta hawa napsu. Mungkin kedepanya pemerintah harus lebih peka terhadap nasib para difabel yang sudah bekeluarga ini. Sedikit banyak mereka harus di beri bantuan supaya bisa menjalani hidupnya dengan layak seperti masyarakat yang normal. (WS)