Oleh: SAMSUL HADI

( Sekertaris Devisi Difabel )

 

Difabel dengan sekelumit serba serbi hidupnya, dengan kurang sebagian dari fisik berpengaruh pada banyak hal dalam menjalani hidup ini. Difabel tangguh adalah difabel yang sudah keluar dari masalah masalah kedifabelannya, paham akan dirinya secara fisik dan mempunyai jawaban sendiri ketika stigma dilingkungan dihadirkan didirinya. Sementara difabel belum tangguh secara pribadi mungkin masih belum bisa menerima stigma stigma yang datang dari lingkungan keluarga ataupun masyarakat luas sehingga mengganggu intreaksi dan aktivitas dikedifabelannya.

 

Salah satunya digiat sosial kami merapat kesalah satu Difabel karena kecelakaan, ditemui oleh TIM EF Devisi Difabel dalam kunjungan sosial, saya (SAMSUL HADI) Devisi Difabel mewancarai dan menggali banyak kisah yang menimpa Saudara Intiongsu Idris, warga Dusun Pengkores Desa Kopang Rembige Kecamatan Kopang. Tahun 2005 yang silam, Ongsu (37) panggilannya, awalnya adalah pekerja lepas diburuh harian proyek jalan untuk pengaspalan, secara fisik lengkap dan bisa melakukan semua aktifitas fisik sebagai mata pencaharian diwaktu itu. Namun disuatu hari yang naas, sebuah alat berat (stum) menggilas kaki kirinya, diproyek pengaspalan disekitar wilayah Waduk Pandan Dure yang menyebabkan dua jemarinya terputus sehingga dilarikan ke sebuah puskesmas namun keadaan peralataan tidak mendukung, pihak puskesmas membuat rujukan harus berobat ke Mataram tepatnya di RSU Mataram waktu itu.

 

Pak Onsu mejalani perawatan yang cukup lama sehingga biaya yang yang harus di keluarkan cukup besar. Ada sekitar 17 juta lebih yang pak Onsu keluarkan. Uang itu berasal dari sumbangan para tetangga dan masyarakat yang perduli dengan musibah yang menimpanya.

 

“Saya hanya mendapat bantuan Rp. 15. Juta dari sebuah Lembaga Jaminan Sosial. Sementara biaya berobat di RSUP 17 juta lebih” jelas pak Onsu.

Sambil duduk santai pak Onsu menambahkan ceritanya, dalam proses pengobatan di RSU Mataram waktu yang sekarang berubah nama menjadi RSU Propinsi, pihak dokter harus mengambil keputusan harus mengamputasi pergelangan kaki sebelah kiri, karena kata dokter semua tulang dan otot lainya sudah hancur dan tidak berfungsi, takutnya terjadi infeksi yang merembet kepergelangan kaki. Tujuh belas tahun sudah, kenangan kecelakaan kerja waktu itu masih terlihat dan membawa trauma ditahun tahun awalnya, yang awalnya memiliki organ yang lengkap, kini sedikit tidak seimbang karena telapak kaki kiri yang telah tiada.

 

Sedikit tidak lincah seperti awal dalam melakukan kegiatan kecil seperti kekamar mandi, dllnya. Namun kekurangan tersebut terus disemangati sang istri tercinta yang sekarang berdagang kecil kecilan didepan rumah yang membuka kios kecil untuk membantu suami (Ongsu) yang kini berprofesi menjadi tukang ojek. Dari hasil pernikahanya dianugerahi dua orang anak laki laki yang salah satunya kini menginjak bangku SD.

 

Sedikit menikmati kopi hangat bersama Pak Onsu, diteras sejuk pekarangan sambil menyambung cerita ada pengalaman tidak enak yang beliau ceritakan dan itu sebagai pengalaman menjadi difabel. Katanya dia pernah kedatangan tamu yang mengatasnamakan Pegiat Disabilitas dan memintai uang sejumlah Rp. 200.000 dengan menawarkan janji akan mendapatkan ternak sapi. Sekian waktu menunggu hingga sampai hari ini sapi itupun tidak datang. Tapi beliau lupa terkait oknum yang meminta uang dengan iming iming program.

 

Harapan Pak Onsu adalah bagaimana mendapatkan alat bantu telapak kaki palsu, karena dikesibukan setiap harinya agak sedikit terganggu tidak merasa nyaman karena memakai sepatu sebagai alas kaki. Untuk sementara sepatu yang dipakai disebelah kaki kiri berfungsi langsung sebagai telapak kaki ketika berjalan dan mengendarai sepeda motor. Besar harapan dari Pak Ongsu ingin mempunyai telapak kaki palsu agar fleksibelitas dalam mobilitas aktivitas sehari harinya nyaman dan sedikit menunjang kenyaman ketika memakai sepatu. Sebelum kami pulang,tim menitipkan sepasang tongkat ketiak, yang nantinya bisa membantu diaktivitas dalam dan diluaran rumah, semoga bisa meringankan mobilitas jarak dekat. Keluhan dari Pak Ongsu adalah ketika kaki kirinya meyentuh kaki tanpa sepatu.

 

Dan untuk saat ini pak Onsu hanya mempunya alat bantu berupa tongkat ketiak yang di berikan oleh tim Endri’s Foundation yang menyambanginya.