Tania adalah anak yang hidup sebatang kara tanpa ada kedua orang tua yang berada di sisinya. Ayahnya tak pernah berani menjenguk Tania, karena Tania terlahir dari istri muda yang pernikahanya tanpa di ketahui oleh istri tuanya. Sementara ibunya Tania ikut suaminya yang barunya setelelah menikah 10 tahun yang lalu dengan laki laki lain ke lombok utara  . Selama ini Tania di urus oleh nenek dan sepupu ibunya Inaq Yoza / Sholatiah.

 

Untuk sampai ke kampung Gule liat Desa Seteling kecamatan Batu Kliang Lombok Tengah, team divisi Difabel yaitu Syamsul Hadi, Niar Kartika Dan Baiq Nuri harus menempuh perjalanan yang tak mudah karena melalui jalan yang cukup terjal di kaki gunung rinjani bagian selatan. Hutan lebat dan jalan berbatu yang curam hampir hampir membuat perjalanan di urungkan. Tetapi karena misi harus di laksakan mereka terus berjuang supaya sampai ke tujuan.

 

Tania di jumpai secara tak sengaja di saat team divisi Difabel lagi mengunjungi seorang warga desa seteling yang lagi terkena musibah dan butuh perhatian khusus. Team EF yang mendapatkan laporan segera menindak lanjuti untuk mengecek keadaan Tania yang kebetulan jarak rumahnya dengan korban tak begitu jauh.

Sudah 10 tahun Tania hidup tanpa di damping keluarganya. Semangat hidupnya cukup tinggi. Gadis cantik kelahiran 2005 ini tak pernah merasa putus asa. Dia terus belajar melalui TV yang dia tonton di rumah tetangganya sehingga saat ini dia mampu menulis dan membaca. Hanya saja keinginannya untuk sekolah masih tetap membara. Dia ingin sekali ikut ke sekolah seperti teman teman sebayanya.

 

Setiap hari kegiatan Tina hanya bisa bermain di sekitaran rumahnya yang jauh di tengah hutan. Biarpun tina sudah mempunya kursi roda, namun Tina dak bisa ke mana mana karena jalan yang menghubungkan rumahnya dengan rumah tetangga cukup sulit di lalui oleh kursi rodanya yang lebar dan di tengah jalan banyak akar akar pohon yang melintang. Satu satunya jalan Tina akan merangkak jika kepingin sekali untuk bermain dengan teman sebayanya.

 

Sekolah terdekat dengan Tina jaraknya sekitar 1 KM dengan jalan bebatuan dan tanjakan yang cukup terjal dan tak memungkinkan di lalui oleh kursi roda. Masalah inilah yang menghalangi Tina untuk memendam keinginannya buat sekolah. Sekarang Tina sangat berharap untuk mendapatkan shop Skill berupa pendidikan keterampilan yang mampu dia kerjakan.

 

Kondisi pisik keseluruhan Tina cukup bagus. Hanya saja kakinya yang polio sejak bayi tak berpungsi sama sekali bahkan lututnya sudah kaku karena tak pernah tersentuh terapi atau tindakan medis yang lainya. Sedangkan tangan dan lain lainya cukup memungkinkan buat Tina mendapatkan keterampilan supaya kelak bisa hidup mandiri seperti para Difabel yang lainya. (WS)