Korban TKI ilegal dari sengatan listrik semakin banyak. Beberapa hari yang lalu Yayasan Endri’s Foundation menangani Mashuri asal Suradadi Lombok Timur yang kehilangan kedia kaki dan tanganya oleh sengatan listrik di malaysia timur, sekarang Yayasan EF kembali menemukan Muksin asal Batu Kliang Utara Lombok tengah yang nasibnya sama dengan Mashuri.

 

Berawal dari bujukan tetangga yang mengajak untuk menjadi tenaga kerja di luar negri dengan iming iming gaji besar sebagai tenaga buruh petik kelapa sawit, Muksin berangkat ke Malaysia Timur pada bulan agustus 2016 melalui jalur ilegal yaitu Visa kunjungan sosial. Namun naas menimpanya saat bekerja, dia terkena musibah sengatan listrik ketika bekerja di ladang kelapa sawit. Waktu itu Muksin baru saja bekerja selama 3 minggu.

 

Musibah yang menimpa Muksin membuat semua keluarga yang mendapat kabar itu menjadi panik. Mereka panik karena bingung bagaimana cara membawa Muksin untuk pulang ke Desanya di Gule liat desa Seteling kecamatan Batu Kliang Utara Lombok Tengah. Sementara utang untuk biaya keberangkatanya saja belum sempat terbayar, sekarang harus mencari utangan yang tak sedikit untuk mebiayai kepulangan Muksin.

 

Setelah 4 hari terlantar dengan kedua tangan dan kaki yang gosong terbakar arus listrik, Muksin akhirnya bisa di kirim dulu ke kalimantan timur dari dana urusnan para TKI yang lainya. Sesampainya di kalimantan timurpun Muksin harus menunggu biaya lagi untuk melanjutkan perjalanan ke lombok. Luka di tangan dan kakinya sudah mulai membusuk dan di penuhi oleh belatung. Sementara keluarga di kampung semakin panik mendengar berita kondisi Muksin yang semakin meprihatinkan.

 

Keluarga yang tak mau melihat Muksin meninggal dengan cara memprihatinkan akhirnya memutuskan menambah hutang untuk membiayai kepulangan dia ke lombok. Dengan biaya 7 juta akhirnya muksin bisa sampai ke lombok dan langsung di bawa ke RSUD Praya Lombok Tengah. Hanya sehari di RSUD Praya Muksin Langsung di bawa ke RSUP Provinsi NTB di mataram untuk penanganan lebih lanjut. Di sini kedua tangan Muksin langsung di amputasi, sementara kedua kakinya di biarkan dengan alasan masih bisa di selamatkan.

 

Untuk memperbaiki kakinya, muksin dikirim ke RS Sanglah Denpasar Bali supaya penangananya bisa lebih baik. Tapi ternyata sesampai di sana team dokter memutuskan kaki Muksin juga harus di amputasi. Muksin harus rela hidup tanfa kedua tangan dan kakinya.

 

Sekarang sudah 1 tahun musibah itu berlalu, Muksin masih belum bisa keluar dari deritanya karena kaki kirinya yang sengaja di biarkan ternyata mebawa masalah baru. Kakinya ternyata tak bisa sembuh dan di gerogoti oleh belatung sehingga tulang kakinya terbuka lagi sampai ke sum sum. Mashuri kembali harus rela untuk di amputasi yang keempat kalinya. Namun karena paktor biaya akhirnya untuk sementara niat itu tertunda terus.

 

Muksin yang saat ini hanya hidup dari pemberian keluarga yang masih perduli dengan dirinya sangat tidak mampu untuk melanjutkan niatnya untuk sembuh secara total. Sementara istrinya, Sugimah yang mengganti dia sebagai tulang punggung keluarga hanya bisa menjadi buruh pencari rumput dan gembalakan sapi tetangga. Sedangkan pendapatan dari yang lain sama sekali tak ada karena kehidupan ekonomi keluarga Muksin sangat miskin dan tak punya lahan pertanian seperti tetangganya yang lain.

 

“ Utang kami untuk biaya pemualangan ke lombok saja belum lunas pak, Sekarang kami harus memikirkan biasa amputasi dan biaya lain lainya selama masa perawatan di Rumah Sakit “ keluh Sugimah, istrinya Muksin.

 

 

“ ini belum biaya makan dan keperluan orang yang menjaga dia nantinya di rumah sakit. Kami seperti orang gila kalau memikirkan hal ini. Makanya kami hanya bisa pasrah saja untuk sementara ini. Siapa tau ada orang yang mamu membantu kami keluar dari masalah ini “ sambung Sugimah penuh harap.

 

Sekarang Sugimah sangat berharap suaminya bisa sembuh supaya dia bisa lebih leluasa meninggalkanya mencari rejeki karena saat ini suaminya masih belum bisa di tinggalkan sama sekali. Semua kebutuhannya baik itu makan maupun minum masih membutuhkan bantuan orang lain. (WS)