Perjuangan Mashuri meraih mimpinya untuk kembali bisa berjalan mulai menampakan hasil. Pemuda kelahiran 1997 ini tak pernah putus asa menerima musibah yang dia alami beberapa waktu yang lalu yang membuat dia kehilangan kedua tangan dan kakinya. Terlebih setelah ADBMI ( Advokasi Buruh Migran Indonesia ) lombok timur hadir mendampingi dia. Yayasan yang di pimpin oleh Roma Hidayat ini berkomitmen untuk tetap mendampingi dia bersama kepala Desa Suradadi Kecamatan Terara Lombok Timur.

 

Rabu, 8 februari 2018 mashuri di kunjungi oleh Team yayasan Endris Foundation untuk melakukan Assesment ( pengukuran ) sisa lengannya supaya bisa di buatkan tongkat khusus karena mashuri tak mempunya lengan yang berpungsi memegang tongkat. Bahkan salah satu kakinya juga di ukur untuk persiapan kaki palsunya jika memungkinkan.

Di sela sela pengukuran yang di lakukan oleh team EF, mashuri punya keinginan untuk bisa ikut kegiatan  teman temannya sesama Difabel. Bahkan dia ingin seperti yang lainya yang bisa beraktifitas layaknya orang kebanyakan. Niar Kartika sebagai team Pemberdayaan Difabel Endris Foundation menawarkan Mashuri untuk bisa mengikuti pelatihan olah raga Ragbi yang selama ini di geluti olah Difabel NTB di bawah kerja sama dengan BSF ( Bali Sport Foundation ). Mashuri langsung mengiakan tawaran itu. Tetapi karena kendala Transport kemungkinan niat Mashuri agak terkendala.

 

Semangat mashuri patut di acungi jempol karena tak begitu lama sudah bisa beradaptasi dengan kondisinya yang sekarang. Hanya orang orang yang bermental baja yang mampu keluar dari masalah seperti ini. Bahkan banyak yang stres dan hampir gila jika tak mampu menerima keadaanya yang dulu normal harus menjadi sorang Difabel dalam waktu yang sangat mendadak seperti yang dia alami.

 

“ Bersedih hanya akan menambah beban hidup saya. Saya tak akan terlena dengan kesedihan seperti itu. Cukup bagi saya waktu yang singkat ini untuk berpikir mengenai masa depan saya selanjutnya. Masih banyak yang lebih parah dari saya tapi mampu bertahan “ kata Mashuri. “ Kalau mereka mampu kenapa saya tidak “ sambungnya.

“ Rasa Sedih dan kecewa dengan nasib ini memang pasti ada. Tapi inilah takdir yang terbaik buat saya menurut Allah sang pemberi kehidupan. Sebagai umat saya harus tetap semangat dan menerima kehendaknya. “ kata Mashuri sambil sedikit termenung.

Sekarang yang di harapkan oleh Mashuri adalah bagaimana caranya supaya bisa mendapatkan modal untuk memulai kehidupanya yang baru ini dengan usaha yang mampu dia lakukan. Mungkin pekerjaan yang akan dia pilih adalah pekerjaan yang tak terlalu banyak menggunakan tangan atau kaki seperti membuka usaha jual pulsa atau membuka kios kecil sebagai langkah awal sambil memikirkan dan belajar mencari kegiatan lain yang mampu dia kerjakan. (WS)