Namanya mashuri lahir di Dusun Presak 01-11-1997 merupakan anak ke lima dari lima bersaudara dari dua lelaki dan tiga perempuan dari pasangan Amaq Judin dan inaq Gowan (almarhumah) ini adalah salah satu dari sekian ratus buruh migran Indonesia yang  mengalami kecelakaan kerja di negeri orang. Dilahirkan dan dibesarkan dari keluarga yang tidak mampu membuat Mashuri hanya mampu meraih Ijazah Sekolah Dasar, meskipun sempat mengenyam pedidikan di sekolah Madrasah Tsanawiyah sampai kelas tiga tapi karena tidak punya uang untuk membaya ruang ujian akhirnya Mashuri pun berhenti sekolah.

 

Setelah tidak bersekolah lagi, Mashuri sesekali membantu orang tuanya mencari uang sebagai buruh tani untuk membiayai kehidupan sehari-harinya. Hingga suatu hari, Mashuri bertemu dengan temanya dari Dusun tetangga yaitu Dusun Midang bernama Renah. Renah ini adalah buruh migran yang sudah beberapa kali keluar masuk Malaysia. Dengan niat membantu orang tuanya untuk memperbaiki ekonomi keluarganya, Mashuri pun mengutarakan keinginannya untuk ikut dengan Renah ke Malaysia Timur, Sabah.

Berbekal ongkos Rp. 3,5 juta yang di dapatkan dari pinjaman kawanya, Mashuri bersama beberapa temannya berangkat ke Malaysia melalui Kalimantan timur dan melanjutkan perjalanan ke perbatasan via jalur darat menaiki BIS menuju kota Binutu Sabah, Malaysia timur. Di sini seorang Toke ( BOS ) sudah menunggu untuk memperkerjakan mereka di sebuah perkebunan kelapa sawit.

 

Selama 1 tahun kerja di perkebunan kelapa sawit itu, Mashuri hanya mampu melunasi hutangnya sebesar Rm 1.200 lalu mencoba peruntungan di tempat lain. Setelah menganggur selama dua minggu akhirnya mashuri mendapatkan pekerjaan baru di tempat lain di kawasan yang sama. Di sini propesi Mashuri masih sama yaitu sebagai tenaga potong buah kelapa sawit.

 

Baru  satu hari kerja naas menimpanya, pelepah kelapa sawit yang di bersihkan tak sengaja menimpa kawat aliran listrik tegangan tinggi yang melintas di tengah perkebunan. Mashuri yang saat itu masih memegang gagang sabit yang terbuat dari pipa besi sontak kena aliran listrik yang membuatnya tumbang tak sadarkan diri. Semua tanganya dan kakinya menghitam terbakar oleh aliran listrik yang bertegangan tinggi.

 

 

Satu jam lebih Mashuri terkapar di perkebunan itu sebelum di jumpai oleh masyarakat yang melintas. Waktu itu Mashuri sudah pasrah. Melihat keadaan Mashuri yang terbakar seperti itu, masyarakat dan beberapa temanya melarikan Mashuri ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama. Dan menurut dokter satu satunya jalan adalah amputasi supaya bisa menyelamatkan organ tubuh Mashuri yang lainya.

 

Pihak rumah sakit pada waktu itu sempat bingung menanganinya karena Mashuri yang masuk melalui jalur Ilegal ( Visa Kunjungan Sosoal ) sama sekali tak mempunyai keluarga yang akan bertanggung jawab untuk biayanya selama penanganan medis di Rumah Sakit Sabah. Setelah tiga hari menunggu , pihak Rumah Sakit atas pertimbangan kemanusiaan, akhirnya melakukan tindakan medis berupa Amputasi sebelum di lakukan Deportasi ke Pontianak menurut aturan perundang undangan tenaga kerja Ilegal Malaysia.

 

Sesampainya di Pontianak Kalimantan, Mashuri yang di tangani oleh Dinas sosial di bawa lagi ke Rumah Sakit untuk penyembuhan pasca oprasi di RS Sabah. Tiga bulan Mashuri terbaring tanpa ada keluarga yang menjenguk sama sekali. Alasan ini juga yang membuat Dinas sosial Pontianak terlambat mengirim Mashuri. Karena tak ada yang mendapinginya selama dalam perjalanan.

Setelah dapat pendaping yang akan menjaga Mashuri dalam perjalanan, pihak Dinas Sosial mengirim Mashuri Via Jakarta untuk penanganan lebih lanjut. Sesampainya di kantor Dinas Sosial Bambu Apus Jakarta Pusat, mashuri lalu di rujuk ke RS Koja. Di sini mashuri kembali di oprasi untuk mengeluarkan belatung dan pencangkokan kulit pada luka luka Mashuri yang masih belum mendapatkan perawatan sebelumnya. 1 bulan lebih Mashuri di rawat di RS koja sebelum di deportasi ke kampong halamanya di Lombok Timur NTB.

 

Setelah menempuh perjalanan yang jauh dari Jakarta ke Surabaya dan dari Surabaya ke Bali lalu di lanjutkan ke Lombok NTB melalui Bis Malam, mashuri di jemput oleh Pak Edwin salah satu staf Dinas sisoal Provinsi NTB di Pelabuhan lembar. Sebelum di serahkan ke Dinas Sosial Lombok Timur, Mashuri sempat di bawa terlebih dahulu ke Dinas Sosial Provinsi NTB.

 

 

Sekarang sudah hampir 9 bulan Mashuri sudah di kampung halamannya sejak di pulangkan pada bulan April 2017 lalu, walau Mashuri sudah mendapatkan kunjungan dari Dinas sosial Jakarta, Dinas Sosial Provinsi NTB dan Kabupaten Lombok Timur. Mashuri sama sekali belum mendapatkan bantuan yang layak seperti bantuan counseling pasca penyembuhan agar Mashuri bisa kembali bersemangat menjalani kehidupannya.

 

Setelah mendapatkan Kunjungan dari Syamsul Hadi, salah satu staf Team Endri’s Foundation Divisi Difabel yang di damping oleh staf ADBMI yaitu Fauzan. Mashuri dalam kesempatan itu meminta bantuan dari semua pihak yang  peduli dan mau membantu agar sudi memberikan bantuan tangan palsu agar bisa memakai tongkat agar bisa beraktivitas layaknya manusia normal lainnya. Selain itu, Mashuri juga mengharapkan agar pihak tekait dalam hal ini dinas tenaga kerja dan Dinas Sosial bisa memberikan pelatihan skill untuk kaum diffabel agar bisa mencari dan melakukan aktivitas yang mendatangkan uang untuk membantu orang tuanya dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari hari. ( WS )