Melalui Yayasan Lombok Difabel Bersaudara ( LODISRA ), para pegiat sosial Difabel mencoba mempersatukan para Difabel untuk duduk bersama dalam satu wadah untuk menggapai segala mimpi mimpinya selama ini. Setelah sekian lama tercerai berai karena karena wadah wadah mereka kurang aktif terutama dengan pembinaan atau bimbingan penguatan ekonomi Difabel, akhir tahun 2017 mereka membentuk sebuah komitmen melalui Yayasan Lombok Bersaudara.

Abdul Azis, seorang difabel ( Polio ) yang saat ini aktif sebagai guru honorer sebuah sekolah swasta di Lombok Barat bersama teman temanya yaitu Niar Kartika, Pardi dan Damai mencoba melakukan pertemuan pertemuan dengan teman temannya sesama Difabel untuk mencari dan menyelesaikan masalah masalah yang ada dalam diri mereka masing masing.

 

Kekompakan itu mulai terlihat sejak adanya team basket kursi roda yang di inisiasi oleh Bali Sport Foundation ( BSF ) yang bermarkas di Denpasar sejak tahun 2016 lalu. Tetapi karena masalah internal kepengurusan Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia ( HWDI ) Nusa Tenggara Barat yang menjalankan mandat kegiatan sesuai SOP kelembagaan, maka mereka lalu memisahkan diri dan membentul Lombok Adil Sport ( LAS ).

 

Untuk menguatkan posisi komonitas mereka, maka akhir tahun 2016 para Difabel yang tergabung di LAS melebur dan membuat Yayasan Baru bernama Lombok Disabilitas Bersaudara ( LODISRA ) yang di ketuai leh Abdul Azis.

Kekompakan mereka bisa terlihat dari kegiatan rutin mereka selama latihan basket 3 kali dalam seminggu maupun dalam pertemuan pertemuan lainya seperti acara koprasi atau kumpul kumpul untuk mencari ide ide apa yang kira kira bisa di kembangkan dalam komunitas mereka sebagai penunjang kegiatan ekonomi difabel.

 

Minggu 28 januari LODISRA hadir dalam kegiatan jalan santai yang di adakan oleh Lembaga Amil Zakat ( LAZ ) NTB yang di adakan di Islamic Centre Mataram. Ada 50 yang hadir dalam acara tersebut dan 35 di antaranya adalah pengguna kursi roda. Mereka datang dari berbagai penjuru seperti Lombok Timur, Lombok Tengah dan lombok barat. Kekompakan mereka semakin terasa dengan hadirnya sebuah komunitas lain yaitu Pisak Bersatu Dan Dasi Lombok Tengah yang membantu mereka dari uang pendaftaran dan konsumsi.

Harapan Kami Kedepanya, akan lebih banyak lagi even even seperti ini yang melibatkan kaum Difabel sebagai ajang memperkenalkan diri supaya masyarakat dan pemerintah tau keberadaan kami. Mungkin dengan itu pemerintah bisa mengajak kami untuk duduk bersama mebicarakan hal hal yang menyangkut difabel dalam kebijakan yang akan mereka tentukan baik itu dalam penganggaran maupun program “ kata Abdul Azis.

 

Di sisi lain dengan adanya kegiatan seperti ini, para difabel bisa saling mengenal lebih jauh dan tempat temu kangen. Ini karena mereka terhalang dengan domisili masing masing anggota yang memang terlalu jauh. ( ws)