Hari itu cuaca sangat terik dengan angin yang cukup kencang dan debu yang sangat tak bersahabat. Di sebuah Show Room mobil bekas namapak seorang laki laki gempal sedang melakukan aktipitas mengelas dudukan Accu mobil Truk yang baru saja datang dari bima. Dialah Gunawan Sang makenik Difabel yang sejak SMP sudah menekuni dunia perbengkelan mengikuti kakaknya.

Laki laki kelahiran 1987 ini hanya sempat mengenyam pendidikan sampai bangku SMP dan tidak melanjutkan pendidikanya karena waktu itu SLB di daerah dia belum ada, sementara sekolah pormal tidak menerimanya. Walaupun begitu Gunawan Tak pernah merasa putus asa. Dia terus mengasah keterampilanya sampai harus rela merantau ke Solo.

Tahun 2003 gunawan di kirim oleh Dinsos ke RC Solo untuk mengikuti pelatihan di bidang perbengkelan. Tetapi sesampainya di sana dia harus di tolak karena kedua kakinya lumpuh total, sementara yang boleh mengikuti pelatihan perbengkelan adalah yang bisa berdiri. Akhirnya dia harus rela mengikuti pelatihan yang dia sendiri tak sukai yaitu di bagian elektrinik. Ini mau tak mau harus dia terima karena sudah terlanjur sampai di solo. Dan tahun 2004 dia kembali ke lombok untuk menekenui dunia perbengkelan.

Sekarang gunawan baru saja mempunyai putri berusia 4 bulan dari seorang istri yang dia nikahi beberapa tahun yang lalu. Anak ke lima dari tujuh bersaudara dari pasangan Muhamad Nasir dan Sarindah ini selalu optimis dalam menghadapi hidup ini. Bahkan dia tak mau mencari seorang istri yang sesama difabel. Itulah sebabnya dia mencari istri yang secara pisik yang normal untuk melengkapi kekurangnya. “Allah maha adil dan kita harus tunjukan bahwa kita juga bisa mendapatkan keadilan itu” katanya sambil tertawa.

Sekarang gunawan punya cita cita memiliki bengkel sendiri untuk menopang ekonomi keluarga kecilnya. Tetapi harapan itu sepertinya akan jauh dari kenyataan berhubung dia sendiri terlahir dari orang yang kurang berada. Walaupun saudaranya mempunya bengke, itu hanyalah bengkel kecil yang selama ini tempat melakukan olah kemampuanya di bidang perbengkelan. Bantuan dari pemerintah juga tak kunjung datang. “Perhatian terhadap kami masih sangat kurang” bebernya. (WS)